Quotes: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)
"Walaupun kamu
pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku."
"Jangan pernah
bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan
memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu
menguatkan hati, menghidupkan pengharapan."
"Kau yang sanggup
menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan
saya sengsara selamanya. Kau boleh
memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku."
"Hati saya
dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin
yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di
akhirat."
"Carilah
kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu
kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku."
"Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan."
"Tanganmu akan ku
gandeng, dari hayatku, sampai matiku."
"Semuda ini
usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung."
"Cinta bukan
mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan
melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat."
"Kalau pikiran
tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?"
"Sejauh-jauhnya
kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali."
"Maaf? Kau regas
segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf.."
"Sudah hilangkah
tentang kita dari hatimu?"
"Janganlah kau
jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti
ini."
"Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang
kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain
padahal begitu besarnya."
"Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir
oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen
Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan
menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang
lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin
dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa
oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati
menanggung cinta Hayati.. 2 bulan
lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku,
menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan
orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?"
"Kau pilih
kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas,
bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang
telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah
pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan
halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka ini tetapi
menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti
katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu
dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal.
Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan
tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara
seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang
janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku.
Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku
untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi
surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula
kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang
kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang
dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan.
Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah
kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu."
"Saya tidak akan
pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan. Biar saya kau
pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya
butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau.."
"Tidak. Pantang
pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke
kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya."
"Percayalah di
dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.Dan
kekayaan itu belum pernah ku berikan kepada orang lain, walaupun kepada Azis.
Kekayaan itu ialah kekayaan cinta."
"Heningkan hatimu
kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai
saya kembali."
"Walaupun kamu pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku."
"Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan."
"Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku."
"Hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat."
"Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku."
"Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan."
"Tanganmu akan ku gandeng, dari hayatku, sampai matiku."
"Semuda ini usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung."
"Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat."
"Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?"
"Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali."
"Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf.."
"Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?"
"Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini."
"Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya."
"Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta Hayati.. 2 bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?"
"Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu."
"Saya tidak akan pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan. Biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau.."
"Tidak. Pantang pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya."
"Percayalah di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.Dan kekayaan itu belum pernah ku berikan kepada orang lain, walaupun kepada Azis. Kekayaan itu ialah kekayaan cinta."
"Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai saya kembali."

